Ekonomi Merosot Karena Direct Investmen Income Turun

Salah satu faktor penyebab makin merosotnya perekonomian Indonesia adalah makin menurunnya jumlah direct investmen incomeatau keuntungan perusahaan asing yang ada di Indonesia yang dibawa pulang.

“Contohnya ada perusahaan Sampoerna yang sebagian besar dimiliki oleh Philip Morris. Lalu ada Indosat yang hampir 100 persen dimiliki asing, Telkomsel 30 persen dimiliki oleh asing dan lain sebagainya,” kata Faisal Basri, pengamat ekonomi Universitas Indoesia,  dalam acara Suara Surabaya Economic Forum 2019 (SSEF2019) yang diadakan di Grand City Convex Surabaya, Rabu (5/12/2018).

Menurut Faisal, seharusnya yang dibenahi oleh pemerintah saat ini adalah makro ekonomi dan bukan malah mengurus micro ekonomi yang jelas menjadi penopang perekonomian nasional. Contoh kongkritnya dengan memberlakukan pajak kepada para pelaku usaha kecil menengah (UKM). Menurut Faisal, memang saat ini nilai tukar mata uang kita terhadap Dolar AS bermasalah, memang harga minyak juga sedang bermasalah. Namun, yang paling berpengaruh menurunkan perekonomian kita adalah perusahaan-perusahaan asing di Indonesia saat ini.

“Seharusnya, pemerintah berfikir bagaimana caranya keuntungan perusahaan asing di Indonesia ini kembali ke Indonesia bukan malah pulang balik ke negaranya,” tandas dia.

Surplus perdagangan barang Indonesia makin menyusut. Faisal mencatat, sejak Indonesia merdeka 1945, keadaan ini adalah yang paling buruk. Surplus perdagangan barang Indonesia mengalami defisit pada tahun 2012, 2014 dan 2018. Pada 2018 nilainya defisit hingga minus 5,5 poin. Sedangkan untuk produksi minyak, BPS juga mencatat Indonesia mengalami devisit hingga minus USD 16,6 miliar.

Sementara itu, sektor perekonomian Indonesia yang sedang bagus adalah sektor pariwisata. Faisal mencatat, Indonesia mengalasi surplus 4 miliar US Dolar. Selain itu, sektor lain yang mengalami surplus adalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang ada diluar negeri. “Harusnya, kalau TKI kita pulang ke Indonesia, kita musti sambut dengan karpet merah. Karena mereka menyumbang netto devisa USD 4,8 miliar,” ujar dia lantas disambut tepuk tangan 700 orang peserta yang hadir.

Ditegaskan Faisal, sektor pariwisata Indonesia yang tumbuh signifikan itu tidak dapat digenjot terus menerus. Ia mencatat, pada tahun 2017 pertumbuhan pariwisata Indonesia 22 persen. Namun, sampai Oktober 2018, pertumbuhan sektor pariwisata hanya mencapai 12 persen.

“Pemerintah mengira pertumbuhan pariwisata kita tiap tahun bisa mencapai 22 persen. Ya ngos-ngosan lah. Tahun ini jelas angkanya jauh dari target. Mangkanya, kalau bikin target tolong masuk akal sedikit,” tutur Faisal, lantas di sambut tawa para hadirin.

Untuk mengatasi hal itu, salah satu jalan yang ditempuh pemerintah adalah dengan menggenjot penerimaan pajak. langkah ini diambil karena dalam kurun lima tahun terakhir penerimaan pajak Indonesia makin turun jika dibanding jumlah produk domestik bruto (PDB). Dalam jangka waktu 2 tahun terakhir akhirnya mencapai titik terang. Perlu diketahui, selama Indonesia merdeka mulai 1945 tax ratio Indonesia di bawah 10 persen.

“Kemampuan narik pajak Indonesia turun terus. Negara lain gak ada yang kayak negara kita. Basis pajak itu industri. Di tahun 2011, ada 15 bidang industri 10 pertumbuhannya keren, di atas PDB. Tapi pada 2017, cuman 3 yang bagus. Tahun 2018 memang meningkat jadi 5. Nah, intinya kalau mau meningkat ekonomi kita ya industrinya harus dimajukan, bukan malah diganggu. Jika industri bisa setor pajak 1 persen, maka sumbangan industri terhadap PDB sudah 1,5 persen, gampangnya begitu,” tegasnya. (wh)

Marketing Analysis 2018

Berikan komentar disini