Dedy Denil Bagi Tips Awetkan Minuman Tanpa Bahan Pengawet

Dedy Denil Bagi Tips Awetkan Minuman Tanpa Bahan Pengawet

Dedy Kurnia Sunarno, berbagi tips di pelatihan Pejuang Muda dan Pahlawan Ekonomi di Kaza City Mall, Surabaya, Sabtu (1/9/2018). foto:arya wiraraja/enciety.co

Dedy Kurnia Sunarno, owner Denil Puding Surabaya, berbagi tips mengawetkan produk minuman tanpa bahan pengawet. Hal itu disampaikan dalam pelatihan Pejuang Muda dan Pahlawan Ekonomi di Kaza City Mall, Sabtu (1/9/2018).

Dedi menuturkan, pada dasarnya ada tiga hal yang yang dibutuhkan untuk produksi minuman tanpa bahan pengawet. Yakni waktu, biaya, dan tenaga. “Itulah risiko dan konsekuensinya. Karena proses yang higienis butuh waktu,” cetusnya.

Dedi memulai usaha sejak 2014. Semua produknya dijamin tidak memakai bahan pengawet. Selain pudding, Dedi juga memproduksi aneka minuman segar. Saat ini, Dedi telah memiliki 11 orang pegawai. Produknya sudah dipasarkan di Surabaya dan daerah lain di Indonesia. Tahun 2018, Dedi juga terpilih sebagai salah satu food startup Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Dalam kesempatan itu, Dedi menjelaskan proses produksi minuman segar tanpa bahan pengawet. Menurutnya, ada ada dua cara yang dilakukan, yakni sterilisasi dan pasteurisasi.

Dalam proses sterilisasi, terang Dedi, semua piranti usaha harus benar-benar steril. Kebersihan ruangan, lantai yang tidak merembes air, dinding warna terang, bahan baku disimpan di tempat kering, dan sebagainya.

“Yang sering dilupakan, bahan baku yang masih mentah dan sudah jadi harus dipisahkan,” katanya, mengingatkan.

Ia lalu menyebut botol kemasan harus benar-benar steril. Untuk produksinya ia menggunakan Hidrogen Peroksida (H2O2). “Bentuknya cair. Dosisnya 50 persen. Usahakan botol yang digunakan jangan yang tipis, tapi yang tebel (tebal),” jelasnya.

Selanjutnya, sambung dia, semprotkan H2O2 ke dalam di botol, berikut tutupnya. Cukup satu semprot. Lalu tiriskan dengan alas kertas tisu, Lantas, keringkan pakai hair dryer. Setelah kering, tutup botol, namun jangan terlalu rapat atau sering disebut tutup segel. Selanjutnya simpan di tempat tertutup.

“Biasanya saya kantongi plastik yang bersih. Bisa dimasukkan box container. Lalu saya simpan, gak sampai seminggu saya sudah gunakan,” ungkap dia.

Dedi juga menyarankan agar dalam proses produksi memakai sarung tangan, masker, celemek, dan memeriksa kuku. “Ini kelihatannya sepele, tapi fungsinya besar. Salah satu kontaminasi produk itu dari mulut,” sebutnya.

Dedi kemudian menjelaskan soal pasteurisasi. Ia menyarankan agar waktu memasak bahan di suhu 100 derajat. Jika sudah kelar, apinya jangan langsung dimatikan, tapi dikecilkan selama 30 menit.

“Pada waktu pengisian botol harus penuh, peres. Jangan kurang karena udara bisa masuk. Itu jadi sumber kontaminasi. Kalau sudah, langsung ditutup segel,” pungkasnya. (wh)