Butuh Penguatan Lembaga Sosial untuk Menolong Kaum Papa

Butuh Penguatan Lembaga Sosial untuk Menolong Kaum Papa

Sri Musilowati (koordinator Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan Kota Surabaya), Narsih Setyawan alias Bunda Awang (pendiri Rumah Bangkit), Eny Winarni (pekerja sosial Dinas Sosial Surabaya), dan Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (20/4/2018).foto:arya wiraraja/encety.co

Kepedulian sosial menjadi hal yang sangat penting di tengah zaman yang makin transaksional. Pasalnya, hingga sekarang, jumlah  orang dan lembaga sosial yang berani, mampu dan mau memikirkan orang lain jumlahnya sangat kecil.

“Dibutuhkan energi besar untuk melakukan itu semua. Jika ada orang yang berani untuk mengurus orang lain tanpa mengharap imbalan sedikit pun, itu merupakan sikap yang mulia,” kata Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dialogue bertajuk “Kepeloporan dan Ketulusan Berbakti dalam Rangka Memperingati Hari Kartini” di Radio Suara Surabaya , Jumat (20/4/2018).

Acara tersebut juga dihadiri Narsih Setyawan alias Bunda Awang (pendiri Rumah Bangkit), Eny Winarni (pekerja sosial Dinas Sosial Surabaya), Sri Musilowati (koordinator Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan Kota Surabaya)

Kata Kresnayana, tidak semua orang bisa melakoni profesi sebagai pekerja sosial. Sebab, banyak tantangan dan rintangan yang bakal dihadapi. “Profesi menjadi pekerja sosial adalah berbakti dalam diam. Kita tidak mengharapkan perhatian, terima kasih, apalagi imbalan,” ucap dia.

Kresnyana lalu menyebut keberadaan orang lanjut usia (lansia). Mereka yang tidak dapat mengurus dirinya sendiri. Saat ini, jumlah lansia di Indonesia sekitar 9 persen dari total populasi. Angka itu diperkirakan meningkat dua kali lipat atau sekitar 20 persen di tahun 2025-2030.

“Fakta ini menunjukkan jika ke depan kita sangat butuh orang-orang yang memiliki jiwa sosial tinggi,” kata pakar statistik ITS tersebut.

Lantas, bagaimana kita dapat menyiapkan lebih banyak orang yang memiliki jiwa sosial? Menurut Kresnayana, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah membuat lebih banyak kelembagaan yang bergerak di bidang sosial. Kelembagaan itu itu harus mampu memperbesar jangakuan mengurus banyak orang yang membutuhkan pertolongan.

Dalam kesempatan itu, Kresnayana memperkenalkan Narsih Setyawan atau karib disapa Bunda Awang. Dia adalah pendiri Rumah Bangkit yang berlokasi Simo Jawar VII C, Surabaya.

Bunda Awang adalah satu dari segelintir orang yang peduli terhadap kehidupan kaum papa. Sebagai perempuan mandiri, Bunda Awang mampu membuat tempat berteduh bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu yang tidak bisa mengenyam pendidikan yang layak.

Bunda Awang megaku ingin memajukan sektor pendidikan bagi warga kurang mampu. Dia lantas memakai balai RT Kelurahan Simo Mulyo untuk membuka bimbingan belajar. Mulai dari pelajaran menggambar, musik, menari, dan bahasa Inggris, dan mengaji Alquran.

“Kami tidak mengajarkan pendidikan formal karena sudah diajarkan di sekolah. Kami ingin membangkitkan bakat terpendam mereka. Kita tidak memungut biaya sepeser pun,” kata Bunda Awang.

Bunda Awang megaku banyak tantangan yang dihadapi menjadi pekerja sosial. “Awal mendirikan Rumah Bangkit, tiga tahun lalu, saya banyak disorot dan dicurigai masyarakat sekitar,” katanya.

Kata dia, banyak masyarakat yang mencurigainya Rumah Bangkit dianggap sebagai sebagai ajang mencari simpati untuk kepentingan tertentu. Selain itu, ia juga dicurigai menggelapkan dana sumbangan yang diperuntukkan untuk Rumah Bangkit.

“Namun alhamdulillah, seiring dengan berjalannya waktu, mereka dapat mengerti apa yang saya kerjakan ini semata-matauntuk memperbaiki pendidikan anak-anak di wilayah Kampung Simo Jawar,” ujar dia.

Bunda Awang mengaku sangat bersyukur telah melakukan kegiatan sosial yang berdampak positif bagi masyarakat. “Setelah tiga tahun berjalan, usaha saya untuk membantu pendidikan anak-anak di Kampung Simo Jawar akhirnya diapresiasi masyarakat. Mereka kini mulai ngerti, jika pendidikan dapat mengubah masalah sosial yang mereka alami,” pungkas dia. (wh)

Marketing Analysis 2018