Boiling Frog: Pelajaran Penting dalam Bisnis

Boiling Frog: Pelajaran Penting dalam Bisnis

Kresnayana Yahya, Chairperson Enciety Business Consult. foto: arya wiraraja/enciety.co

Di zaman serba digital, anak muda sebaiknya tidak ada lagi hidup secara konvensional. Dengan akses yang ada diharapkan bakal ikut membangun digital culture, digital business dan digital transformation.

“Jadi kenapa sekarang banyak orang tanya kenapa memulai usaha ini kok susah. Nah, jawabannya jelas salah tempat, salah waktu, salah cara dan salah strategi. Lalu, kenapa ada anak muda yang baru berbisnis usahanya bisa lebih berkembang ketimbang bisnis orang tuanya?  Ya karena mereka bisa memanfaatkan perkembangan yang ada ini,” kata  Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (29/3/2019).

Bagi mereka yang masih mempertahankan cara-cara lama dalam berbisnis, Kresnayana menganalogikan mereka sebagai boiling frog.

“Seperti kodok ditaruh dalam panci yang dikasih air dingin lalu dimasak. Sampai airnya jadi panas si kodok belum mau lompat. Lha, mereka yang telat berubah ini jangan sampai mengeluh jika tertinggal,” ungkapnya.

Kata di, prinsip ilmu pengetahuan jadi penting di dunia usaha saat ini. Menunggalkan prinsip lama yanh diyakini masyarakat.

Kresnayana lalu menyebut jika profesi menjadi driver sangat dibutuhkan banyak orang. Namun, ke depan profesi ini bakal tergantikan oleh driver otomatis lewat software yang ditanam dalam mobil.

“Berbeda dengan profesi-profesi yang melibatkan analisa data. Ke depan, mereka yang ngolah data ini dibutuhkan. Jadi masa data ini muncul dengan sendirinya. Data ini harus diolah dan dianalisa sehingga bisa memunculkan rekomendasi untuk kebijakan yang diambil,” tegas Kresnayana.

Menurut Bapak Statistika Indonesia itu, Indonesia bakal menjadi satu kekuatan besar yang bakal mengubah peradaban dunia. Pun setiap orang juga punya kesempatan untuk sukses.

“Jadi jika ada orang yang tiba-tiba mengeluh, aduh kenapa saya sekolah ambil jurusan ini, sehingga saya sulit dapat pekerjaan, inilah pemikiran yang keliru. Mungkin kita belum beradaptasi dengan benar,” terangnya.

Dunia digital, menurut Kresnayana, adalah dunia terbuka yang memberikan harapan besar. Namun bidang ini menuntut ketekunan yang tinggi.

“Di masa depan, pola pekerjaan makin spesifik dan sesuai  passion masing-masing orang. Lewat acara ini, kita ingin menjelaskan, jika dunia telah berubah dan kebutuhan masyarakat juga ikut berubah. Tugas kita tidak lain adalah menyesuaikan diri menghadapi tantangan perkembangan zaman,” ujar Kresnayana. (wh)