Bisnis Perempuan Ini Moncer setelah Jualan Aksesoris Bahan Batu Alam

Bisnis Perempuan Ini Moncer setelah Jualan Aksesoris Bahan Alam

Sri Andriyani memamerkan produk buatannya.foto"arya wiraraja/enciety.co

Tak ada kata gagal, tapi mencoba sekali lagi. Semangat itulah yang menyala-nyala dalam diri Sri Andriyani, perempuan pelaku usaha Pahlawan Ekonomi Surabaya. Meski berulang kali menemui kebuntuan dalam merintis usaha, dia tak pernah menyerah. Kini, dia meraup jutaan rupiah dari menjual aksesoris bahan batu alam berupa kalung dan gelang.

Awalnya, Sri Andriyani berkeinginan membuka kuliner. Saat itu, tepatnya tahun 2007, dia mulai membuat kue kering. Resepnya didapat dari warisan keluarga.

“Saya terima pesanan kue kering. Waktu itu sudah lumayan hasilnya. Saya itung hanya dua kali setahun saya banyak order, Lebaran dan Natal. Saya lantas berpikir, usaha apa yang bisa saya kerjakan sendiri dengan tidak diburu waktu konsumsi seperti usaha kue kering,” ujar dia ketika ditemui di rumah yang sekaligus menjadi gerai miliknya di Jalan Tenggumung Baru Selatan 10 Surabaya, Kamis (10/1/2019).

Tahun 2010, ia mulai menjajaki handicraft. Ceritanya, Andri mengikuti program pelatihan yang digelar oleh Bapemas KB (Sekarang Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak, red) di Kecamatan Simokerto.

“Waktu itu saya ketemu Bu Wiwit (Wiwit Manfaati, owner Witrov). Beliau jadi mentor pelatihan. Setelah berkonsultasi, saya tertarik dan mulai mengembangkan usaha handicraft,” tuturnya.

Awalnya, Andri cukup kesulitan membuat produk handicraft. Namun berkat kesabaran, tekun, dan memperhatikan bimbingan mentornya, ia pun mampu membuat beberapa produk seperti kalung, bros, gelang, dan lainnya. “Saya belajar dari nol,” cetusnya.

Rasa percaya diri Andri makin meningkat. Lamat tapi pasti, ia mulai merintis usaha membuat produk-produk handicraft. Untuk membeli bahan, Andri mengaku mengambil uang tabungan bulanan yang diberi suaminya, Erwin Laksminto.

“Waktu itu, tiap kali ikut pelatihan saya dapat uang transportasi Rp 50 ribu. Atas saran dari Bu Wiwit, uang itu saya kumpulkan sedikit demi sedikit untuk modal beli bahan. Ya Alhamdulillah, cara itu berhasil,” ujar perempuan satu anak itu.

Bagi Andri yang lahir pada Oktober 1975 itu, modal memang penting, namun bukan yang utama. “Jika niat dan berusaha, modal itu pasti datang . Harus mau susah. Jika niat kita tulus pasti hasilnya juga positif,” katanya.


Jadi Mentor di Papua

Kali pertama merintis usaha handicraft, Andri membuat tudung saji, pelapis gelas, dan produk-produk rumah tangga lain. Namun, setelah berdiskusi dengan banyak kawan, dia memilih membuat aksesoris seperti bros, gelang, dan kalung. 

“Akhir tahun 2010, saya gabung Pahlawan Ekonomi. Waktu itu pelatihannya di Grosir Kapas Krampung (GKK). Dari sana saya tambah banyak ilmu,” kupasnya.

Andri mengatakan, tantangan mengembangkan produk handicraft adalah memenuhi selera konsumen yang selalu mengikuti tren. “Makanya saya harus update. Saya sering browsing di internet. Saya juga sering jalan-jalan di mal, walaupun hanya liat-liat. Namun, dari itu semua saya dapat banyak inspirasi untuk terus membuat produk baru yang diminati pasar,” tutur dia.

Beberapa tahun kemudian, karya Andri diakui banyak pihak. Pelanggannya terus bertambah. Melalui brand Puspazary, dia dinobatkan Juara II Pahlawan Ekonomi Award 2018 kategori Creative Industry.  

Dalam menjalankan bisnisnya, Andri mengaku mengalami masa pasang dan surut. Itu dianggap wajar-wajar saja. Rata-rata sebulan ia mampu menghasilkan omzet Rp 8 jutaan.

Andri memasarkan semua produknya di seluruh Sentra UKM milik Pemkot Surabaya.  “Saya juga kerjasama dengan Surabaya Patata. Untuk online-nya, saya dapat order dari Instagram dan Facebook. Alhamdulillah, bisa bantu-bantu suami tiap bulan,” tutur Andri, lalu tersenyum.

Akhir tahun 2018, Andri diundang menjadi mentor di Kabupaten Waropen Provinsi Papua. Bersama dengan Wiwit Manfaati dan Aciek Yuli (owner Ama Opi), Andri menularkan ilmunya kepada warga di sana.

“Kita patut bersyukur tinggal di Surabaya. Pengalaman saya menjadi mentor di Papua itu sangat luar biasa. Kita jalan ke sana dua hari dua malam. Meskipun sumber daya alam berlimpah, tapi ada banyak kekurangan, salah satunya akses informasi dan transportasi,” terangnya.

Tahun 2019, Andri bertekad untuk meningkatkan usaha. Salah satunya dengan menaikkan kapasitas produksi. “Alhamdulillah, sekarang saya dibantu tiga orang pegawai. Mereka tetangga kanan-kiri. Kalau pas banyak pesanan, anak saya juga membantu. Itung-itung ngajari mereka berbisnis,” tutur Andri, lantas tersenyum. (wh)

Marketing Analysis 2018