Bisnis dan Filantropi

Bisnis dan Filantropi

Agus Wahyudi, pemimpin redaksi enciety.co

Perusahaan itu punya izin mengelola tanah seluas 73 hektar, tapi baru dibuat site plan-nya seluas 15 hektar. Tanah yang dibebaskan sekitar 4 hektar. Perusahaan itu sudah setahun mangkrak. Padahal, sudah ada 120 rumah yang terbangun. Pemiliknya orang Jakarta yang hanya sempat mengelola dua bulan. Kemudian ditinggal pergi karena perusahaan ini ternyata punya persoalan yang sangat rumit.

Ceritanya, sekitar tahun 1985, tanah itu sudah dijual oleh pemiliknya dalam bentuk tanah kavling, masing-masing seluas 200 meter persegi. Pada 1998, seorang pengusaha mengajukan izin prinsip ke Pemda Surabaya sekaligus site plan-nya. Setiap pemilik kavling bisa mengambil rumah dengan tambahan biaya. Masyarakat umum juga boleh membeli.

Namun, karena site plan dari Pemkot Surabaya dengan site plan tidak resmi yang dibuat pengavling dulu tak sama, terjadilah tumpang tindih. Dan site plan pemkot yang diberlakukan. Pejualan rumah laris manis karena harganya miring. Namun, langkah pengusaha kurang beres. Dana yang masuk sebagian besar tidak digunakan untuk membeli tanah dan membangun rumah, melainkan untuk kegiatan lain. Singkatnya, banyak tanah yang belum dibebaskan, tapi sudah dibangun rumah. Celakanya lagi, sebagian kontraktor tak tidak dibayar. Total utang perusahaan itu sekitar Rp 11 miliar.

Basuki tahu detail persoalan itu dan akan mengakuisisinya. Dia lalu berkonsultasi dengan para pengembang sukses dan pejabat Badan Pertanahan Negara (BPN). Semua menyarankan Basuki tak mengambil risiko berbisnis perusahaan bermasalah itu.

Basuki merenung panjang, Apa mungkin? Keputusan bulat, Basuki mengambil risiko tetap mengakuisisi perusahaan itu! Pelan tapi pasti, Basuki membenahi manajemen perusahaan. Tak mulus, tentunya. Karena Basuki menuai banyak tuntutan dari para user yang telah membayar uang cicilan. Basuki mencoba bersabar. Hingga dua tahun berjalan, Basuki tetap bertahan. Utang yang semula Rp 11 miliar itu akhirnya tertutupi dari pendapatan sebesar Rp 9 miliar. Itu artinya, tiap bulan Basuki untung Rp 2 miliar.

Dari mana? Ya dari jual beli tanah. Semisal ada tanah yang dijual seharga Rp 60 juta, ia membelinya. Lantas tanah itu ia jual lagi Rp 90 juta. Dia untung Rp 30 juta. Itu terjadi berulang kali.

Basuki sendiri tak pernah tahu dari mana datangnya rezeki yang diperoleh dan kemudahan menangani perusahaan bermasalah. Yang dia sebut itu ada tangan-tangan Sang Pencipta. Lalu, bagaimana dengan kita? (*)

*Agus Wahyudi, pemimpin redaksi enciety.co

Marketing Analysis 2018