Bisnis dan Filantropi

Bisnis dan Filantropi

Agus Wahyudi, pemimpin redaksi enciety.co

Banyak orang kaya yang tak pernah melewatkan kegiatan filantropi. Sebut saja Mark Zuckerberg, pemilik Facebook. Di usia muda dia sangat tajir. Mark mendermakan kekayaannya USD 45 miliar atau setara Rp 618 triliun untuk kepentingan sosial. Bahkan, pascakelahiran anak pertamanya, Mark juga berkinginan mewakafkan 99 persen sahamnya melalui yayasan yang dibentuknya, Chan Zuckerberg Initiatives.

Keputusan Mark Zuckerberg sepertinya juga mengikuti kaum filantropis lainnya. Satu di antarnya Warren Buffett, George Soros, dan Bill Gates. Para miliarder tersebut sudah lebih dulu mewakafkan kekayaannya untuk aktivitas kemanusiaan.

Saya tiba-tiba teringat pengalaman seorang kawan. Namanya Basuki Subianto. Ia pengusaha properti yang mengembangkan bisnis di Surabaya dan Sidoarjo.

Basuki adalah mantan jurnalis koran terbesar di Indonesia. Dia memutuskan meninggalkan profesi yang ditekuni belasan tahun dan terjun ke bisnis property. Pengalaman? Gak ada sama sekali tak punya pengalaman. Basuki hanya mengandalkan modal relasi yang dikenal selama 17 tahun jadi jurnalis dan sedikit modal dari pesangon.

Basuki sadar, keputusannya mengajukan pensiun dini dari perusahaan surat kabar itu sangat berisiko. Sebab, Basuki harus rela kehilangan take home pay Rp 17 juta sebulan atau Rp 204 juta per tahun. Sebaliknya, ia dapat uang pensiun hampir Rp 400 juta. Dari uang pensiun itu, ia sisihkan untuk dizakatkan dan disedekahkan.

Lantas, kenapa nekat mengambil keputusan pensiun? Jujur saja, saya tertantang untuk membuktikan jika tidak ada yang tidak mungkin di dunia. Pada akhirnya, dia pun seperti telah memasuki pintu yang benar dalam perjalanan di ruang uji nyali.

Kebulatan hati itulah membuat Basuki mantap melangkah. Dia pensiun dan akan memulai jadi pebisnis. Dan, uji nyali harus dijalani. Basuki punya gagasan mengakuisisi sebuah perusahan real estate di Surabaya. Sebelum mengambil, Basuki beristikharah, Intinya ia meminta bila diridhai bisa dimudahkan menangani perusahaan. Akan tetapi bila tidak, ia minta dijauhkan.

Marketing Analysis 2018