Bisnis dan Filantropi

Bisnis dan Filantropi

Agus Wahyudi, pemimpin redaksi enciety.co

*) Oleh : Agus Wahyudi

Ada pertanyaan menggelitik dilontarkan seorang pengusaha muda asal Jakarta, saat ngobrol bareng di sebuh kafe di Surabaya. Dia bilang, “Keberhasilan bisnis datangnya paling besar dari sentuhan di sana.” Tangannya lalu menunjuk langit.

Kata dia, manusia takkan bisa menjamah kapan datangnya rezeki. Meski, ia tahu secara kalkulatif akan mendapat keuntungan. Makanya, saran dia, di samping berusaha sebaiknya memperbesar kegiatan filantropi. Di mana seseorang bertindak mencintai sesama manusia. Yang rela menyumbangkan waktu, uang, dan tenaganya buat menolong orang lain. Singkat kata: suka beramal.

Masih kata dia. Menghitung hasil bisnis bukan seperti matematika. Banyak faktor yang mempengaruhi. Bisnis yang sukses adalah bisnis yang menemukan keseimbangan antara tanggung jawab ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam setiap aktivitasnya.

Lontaran pengusaha muda itu disanggah rekan bisnisnya. Dia amat yakin, usaha dan kerja keraslah penyebab kesuksesan. Seperti lazimnya diktum yang diyakini banyak orang: hasil tak pernah mengkhianati usaha. Makin besar usaha, makin besar peluang dan keuntungan yang bakal direnggut. Makin besar potensi kemalasan, makin kecil raihan yang didapat. “Bagaimana bisa membantu orang jika urusan perutnya sendiri belum beres,” sanggahnya.

Dua sudut pandang itu jadi topik diskusi yang gayeng. Namun keduanya pun sepakat pada satu polarisasi, jika bekerja keras wajib karena hal itu bagian dari ikhtiar. Soal hasilnya, sandarkanlah kepada Sang Pencipta. Klir.

***

Marketing Analysis 2018