Bidik Pasar Digital, Kreativitas dan Inovasi jadi Kata Kunci

Bidik Pasar Digital, Kreativitas dan Inovasi jadi Kata Kunci

Nurul Istiqomah (owner Kebaya Kirana), Lilik Sholichati (owner ULS Collection) dan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (16/3/2018).foto:arya wiraraja/enciety.co

Kualitas produk dari pelaku usaha kreatif sangat ditentukan detail model dan pilihan warna pada produk. Hal itu menjadi pilihan yang tidak bisa ditolak, terlebih bagi mereka yang memanfaatkan pasar digital untuk pemasaran.

“Dalam arti, produk yang ditawarkan di pasar digital wajib memiliki detail berbeda dengan produk lain yang serupa. Di pasar digital, arus informasi menjadi sangat cepat. Makanya, konsumen juga dapat secara cepat melihat pertimbangan produk mana yang mereka akan beli,” ujar Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (16/3/2018).

Dalam acara itu juga hadir Nurul Istiqomah (owner Kebaya Kirana) dan  Lilik Sholichati (owner ULS Collection).

Krenayana mengatakan, dalam pasar digital, selera konsumen menjadi makin dinamis. Untuk itu, para pelaku usaha kreatif dituntut dapat mengikuti dan memenuhi permintaan pasar.

“Era digital membuat orang makin malas. Karena orang dapat menemukan berbagai hal baru. Sebagai pelaku usaha kreatif, kita juga jangan terlena dengan keadaan itu. Mungkin sekaarang praduk kita laku di pasaran, namun, ke depan kita wajib memenuhi kebutuhan para calon pelanggan dengan membuat produk baru yang kreatif dan inovatif,” terang pakar statistic ITS ini.

Lilik Sholichati (owner ULS Collection) mengamini apa yang disampaikan Kresnayana. Kata dia, menjadi seorang pelaku usaha kreatif yang baik adalah mereka yang dapat mencukupi permintaan pasar.

Lilik lalu menceritakan pengalamannya saat kali pertama menjadi pelaku usaha. Saat membuka pasar ke Indonesia Timur, tepatnya di Papua, ia mendapat pesanan dari saudaranya untuk membeli 1 rim kertas khusus print foto yang harus dikirim saat itu juga ke Papua.

“Waktu itu saya bingung kok harus secepat itu permintaannya. Untungnya saya bisa penuhi. Dari kejadian itu, saya dipercaya banyak orang dan akhirnya sekarang saya punya pasar garmen di Papua,” ungkap dia.

Lilik meyakinkan, sudah menjadi hal mutlak bagi pelaku usaha dapat memenuhi permintaan pasar. Karena dengan begitu, para pelaku usaha dapat mendapat kepercayaan.

“Setelah kita mendapatkan kepercayaan dari pasar, kita tidak boleh mengecewakannya,” papar dia.

Lilik menambahkan, selain memenuhi permintaan pasar, para pelaku usaha kreatif juga wajib berinovasi. Karena dengan begitu, produknya bakal langgeng.

Sementara Nurul Istiqomah, owner Kebaya Kirana, mengaku jika saat ini banyak order yang diterima datangnya dari pasar digital. Contohnya pada Februari 2018 lalu, ada orang dari luar pulau yang datang menemuinya untuk membuat baju kebaya. Saat itu, ia dihubungi salah satu pelanggan via messenger Facebook untuk menanyakan salah satu model kebaya.

“Setelah mendapatkan kesepakatan, akhirnya pelanggan tersebut datang ke Surabaya untuk memberikan kain khas daerah Palembang dan minta diukur. Setelah itu, pelanggan tersebut pulang. Lalu, setelah pesanan pelanggan tersebut jadi, saya mengirimnya via paket ke tempat tinggalnya,” ungkap Nurul.

Dari cerita Nurul, dapat disimpulkan, jika keahlian menjahit atau menciptakan sebuah produk menjadi hal yang sangat penting bagi pelaku usaha kreatif.

“Dari hal tersebut, saya menjadi sadar jika keahlian membuat produk harus diperhatikan para pelaku usaha jika ingin memanfaatkan pasar digital,” tegas dia.(wh)

Marketing Analysis 2018