Besok, Warga Surabaya Boleh Jajal Mobil Listrik

Besok, Warga Surabaya Boleh Jajal Mobil Listrik
DIBOYONG : Mobil listrik yang bisa dijajal di Balai Kota Surabaya.

Dua mobil listrik karya anak bangsa, Selo dan Ahmadi, menyedot perhatian puluhan masyarakat di sela-sela car free day di Raya Darmo. Minggu (8/12/2013), keduanya sengaja diboyong Kementerian Riset dan Teknologi ke Surabaya dipajang di depan eks Museum Mpu Tantular untuk diperkenalkan kepada masyarakat.

“Besok, masyarakat boleh mencoba rasanya naik mobil listrik. Mobil-mobil itu akan dipamerkan di Balai Kota Surabaya,” tutur Ketua Konsorsium Riset Baterai Lithium Kemenristek, Dr Bambang Prihandoko.

Kemenristek bekerja sama dengan LIPI menggelar pameran dua mobil tersebut. Ini adalah bagian dari kegiatan uji coba kendaraan listrik nasional bertajuk Indonesia Electric Car Exhibition yang dilakukan di beberapa kota, di yakni Jogjakarta, Bandung, Solo, Surabaya, dan Jakarta.

Masyarakat yang menonton tampak antusias. Mereka tampak berdecak kagum memandangi mobil Selo bertipe sports car berwarna kuning tersebut. Selo dikonsep oleh Kunto merupakan hasil modifikasi Kupu-Kupu Malam bekerja sama dengan Menteri BUMN Dahlan Iskan. Mobil listrik yang lain, bernama Ahmadi, adalah buatan Dasep Ahmadi asal Depok. Mobil hijau yang mungil ini bertipe city car. Ahmadi didesain berkapasitas 4 orang.

Selo menggunakan dua modul baterai lithium ion dan satu motor listrik dengan daya 130-150 kw, yang disematkan pada girboks empat kali percepatan. Sekitar 70 persen komponen mobil Selo merupakan produk dalam negeri. Sedangkan motor listrik, girboks, dan velg-nya masih harus impor.

Kunto berharap, teknologi mobil listrik Selo bisa menjalani dan lulus uji kelayakan agar bisa digunakan mengembangkan mobil listrik secara massal nantinya.

“Ini merupakan mobil listrik generasi kedua setelah Tucuxi yang terakhir itu, dibuat untuk penelitian. Jadi bukan untuk diperjualbelikan,” ujar Kunto. Ia mengaku, desainnya terinspirasi dari Lamborghini.

Mobil listrik booming dikembangkan dengan harapan untuk mengurangi polusi udara. “Pak Presiden berjanji untuk mengurangi emisi C02 hingga 26 persen. Bahkan, bila dibantu pihak internasional, bisa sampai 40 persen,” tutur Pariatmono, asisten Deputi Iptek Pemerintah Kemenristek.

Ia lalu mengungkapkan, alangkah baiknya jika para pakar kampus bersinergi mengerahkan keilmuannya untuk pengembangan mobil listrik nasional itu. Sebab, tugas utama kalangan akademisi adalah menyalurkan keahlian ke anak didiknya. Bukan ke industri otomotif.

Ia berharap para petinggi perguruan tinggi tak menghabiskan energi ke industri. “Pemerintah harus menjembatani kalangan kampus dengan industri. Gambarannya, kampus menciptakan ahli untuk bekerja pada industri yang memang arahnya ke sana. Sementara dosen dibayar pemerintah,” paparnya.(wh)

Marketing Analysis 2018