Berpikir Inovatif Di Tengah Melambatnya Ekonomi

Berpikir Inovatif Di Tengah Melambatnya Ekonomi
Kresnayana Yahya, Chairperson Enciety Businees Consult. foto: arya wiraraja/enciety.co

Melemahnya pertumbuhan perekonomian belakangan tak hanya melanda negara Indonesia, tapi juga negara-negara dunia lainnya. Dalam kondisi ini kita perlu instropeksi dan mengubah cara pandang.

Di tengah krisis, masyarakat Indonesia harus sering berpikir, berimprovisasi dan berinovasi. Dari tahun 2008, saat perekonomian sedang bagus, pelaku ekonomi atau pengusaha berlomba-lomba atau berlebih-lebihan dalam membelanjakan uangnya. Pada tahun 2010, harga-harga yang melambung, mulai harga tanah dan harga pakan.

Pada awal 2014, ada kejadian harga bahan bakar minyak (BBM) turun. Dan kelompok yang menggelembungkan harga minyak akhirnya tidak berdaya lantaran masyarakat banyak beralih ke gas dan batubara. Beruntung, negara-negara berkembang seperti Indonesia dapat bonus demografi, yaitu 80 jutanya terdiri dari masyarakat kaum muda. Kelebihan ini harus disikapi dengan benar. Seperti menciptakan teknologi dan meningkatkan skill untuk menghadapi perlambatan ekonomi.

Perlambatan perekonomian di Indonesia ini sendiri berbeda krisis ekonomi tahun 1998. Karena di tahun ini, cadangan devisa masih bagus, dan dari sisi pangan masih terkendali.

Tahun ini, masih tidak seburuk dengan yang dulu. Harga-harga bahan dasar kebutuhan pokok hingga kini walau tinggi namun masih stabil. Yang kurang adalah sekunder, jangan sampai produksi berhenti. Dan pemerintah perlu memantau daya beli masyarakat.

Ada dua langkah yang bisa dilakukan, pertama, paradigma bukan pertumbuhan ekonomi tapi harus menumbuhkan partisipasi masyarakat. Kedua, negara Indonesia harus bisa memanfaatkan bonus demografi dengan banyak mendidik anak mudanya menjadi pelaku bisnis.

Masyarakat sendiri harus bisa mengubah gaya hidup. Tidak perlu membeli barang-barang yang tak sesuai kebutuhan. Tidak mengapa bila pertumbuhan negara yang seharusnya mencapai 7 persen, sekarang hanya 5 persen saja.

Di bidang pertanian, negara Indonesia tidak akan mati bila masyarakatnya lebih menggunakan bahan atau suplier lokal. Contohnya harga tempe mahal karena kedelai impor, tetapi setelah kabupaten Lumajang panen kedelai dan pembuat tempe memakai produk lokal yaitu kedelai Lumajang, harga tempe sekarang turun.

Di sektor perikanan, pemerintah Indonesia melalui petugas penyuluh lapangan bisa mengajarkan kepada masyarakat bahwa hasil ikan bisa diperoleh secara mandiri. Seperti kita ketahui, ikan bisa diperoleh dengan dua cara, yaitu dari laut dan budidaya. Kalau pemerintah daerah bisa memberdayakannya akan lebih bagus. Pemerintah daerah bisa menyediakan bibit dan memandu serta beri penyuluhan bagi masyarakat. (wh)

Marketing Analysis 2018