Batik Ikat Jumput Ifa Sabet Penghargaan Creative Industry

Batik Ikat Jumput Ifa Sabet Penghargaan Creative Industry

Siti Ma'rifah memamerkan produknya.foto:arya wiraraja/enciety.co

Usaha butuh ketelatenan dan istiqamah. Ada pasang dan surut. Kerja sama yang tak selalu berbuah manis. Hingga ditipu klien dan mengalami kerugian yang tidak kecil.

Begitulah yang dilakoni Siti Ma’rifah. Perempuan pelaku usaha Pahlawan Ekonomi Surabaya itu, bertahun-tahun menjalankan usaha batik ikat jumput. Kreasinya kini makin diakui banyak kalangan. Bukan hanya di Surabaya, tapi juga daerah lain di Indonesia.

Terbaru, Ifa (begitu ia karib disapa) yang mengusung label Istana Collection dinobatkan menjadi Juara I Kategori Creative Industry Pahlawan Ekonomi Surabaya & Pejuang Muda 2018. Penyerahan penghargaan tersebut dilakukan di event Mlaku-Mlaku Nang Tunjungan Edisi Spesial, Minggu (18/11/2018) lalu.

“Alhamdulilah, saya senang sekali bisa mendapat penghargaan itu. Sungguh saya tidak menyangka,” katanya ditemui enciety.co di rumah produksi, Jalan Banyu Urip Wetan 3C, Surabaya, Jumat (30/11/2018).

Ia lalu menceritakan pengalaman merintis usaha. Ibu tiga anak kelahiran Surabaya, 1974 itu, mengaku membuka usaha hanya untuk mengisi waktu luang.

“Suami saya kerja. Anak-anak juga sibuk berkuliah dan sekolah. Saya cari kegiatan yang positif dan bisa menghasilkan,” ujarnya.

Pertengahan 2010, dia mendapat tawaran dari Kecamatan Sawahan ikut pelatihan batik. Acaranya diadakan di Gedung Dekranasda, Jalan Kedung Doro Surabaya. “Saya tertarik. Pelatihannya gratis. Itung-hitung mengisi waktu luang daripada nganggur,” ungkapnya.

Setelah mendapatkan pelatihan dua minggu, Ia dan 4 orang temannya memutuskan mendirikan usaha. Namanya Warna Ayu. Kegiatan berjalan norman. Mereka kerap mendapatkan undangan ikut pameran, seminar, dan pelatihan.

“Waktu itu, kita sering diundang acara-acara yang diadakan Pemerintah Kota. Ada juga acara yang diadakan perusahaan yang punya UKM binaan. Akhir tahun 2010, kita diundang ikut pelatihan batik ikat jumput dengan bahan pewarna alami di Jogjakarta selama dua minggu,” terangnya.

Usaha bersama Warna Ayu yang digawangi Ifa makin besar. Pesanan dan undangan mengikuti pameran juga makin banyak. Kesibukan mereka juga makin padat. Ujungnya, mereka memutuskan untuk membuka usaha sendiri-sendiri agar bisa berkembang. Istilah anak zaman now: berdiaspora.

“Tahun 2014, saya memutuskan tidak membawa label Warna Ayu, tapi Istana Collection,” ujar istri dari Siswandi (46) itu.

Hoki dari Ganti Label

Siti Ma’rifah alias Ifa bergabung bersama Pahlawan Ekonomi, tahun 2011. Ketika itu,  ia masih bersama dengan label Warna Ayu. Pelatihannya masih di Grosir Kapas Krampung (GKK) Surabaya.

“Kita berlima sering datang. Pokoknya ada ilmu yang bisa ditularkan dari pelatihan Pahlawan Ekonomi saat kumpul untuk produksi,” ungkapnya, lantas tersenyum.

Setelah mampu membuat usaha sendiri berlabel Istana Collection, Ifa makin percaya diri. Dia juga bisa meningkatkan kapasitas produksi kain dan baju batik ikat jumputnya.

“Saya makin terpacu untuk bisa membesarkan usaha. Dulu saya hanya bisa buat kain batik, saat ini sedikit-sedikit saya sudah bisa memproduksi baju dari kain batik, alhamdulillah,” tutur Ifa.

Akhir 2015, produk Ia terpilih ikut program Tatarupa V. Tidak hanya di-repackaging, produk Ifa juga di rebranding. Ifa mendapatkan label baru untuk usahanya.

“Nama yang dipilih Wilis & Verda. Artinya muda dan segar. Menurut saya, nama ini membawa hoki. Setelah ganti nama, pesanan mulai meningkat. Harga produk saya makin meningkat. Untuk satu produk sekarang harganya Rp 150 ribu sampai Rp 500 ribu,” tegas Ifa.

Terkait marketing, baju dan kain batik ikat jumput Ifa bisa dibeli di beberapa Sentra UKM Pemerintah Kota Surabaya. Selain itu, ia kini juga menjual produknya di media sosial seperti Facebook, Instgram. Juga ada yang dijual di marketplace.

“Kalau penjualan offline yang banyak order dari Sentra UKM Siola. Kalau online paling cepat dari e-commerce. Alhamdulillah, saya bisa dapat Rp 5 jutaan sebulan. Saya bisa bantu suami mencukupi biaya bulanan dan biaya sekolah,” paparnya.(wh)

 

Marketing Analysis 2018

Berikan komentar disini