Kresnayana Yahya, Bapak Statistika Indonesia

Bapak Statistika Indonesia

Kresnayana Yahya dan Agus Wahyudi.foto:arya wiraraja/enciety.co

*) Oleh: Agus Wahyudi

Saya kenal dekat sejak tahun 2012. Setelah sebelumnya saya tahu kalau dia dikenal sebagai pakar statistika. Mengajar di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Menjadi narasumber di berbagi diskusi, seminar, workshop, dan masih banyak lagi. Dan, wajahnya juga banyak menghiasi media massa, baik cetak maupun elektronik.

Kresnayana Yahya. Karib disapa Pak Kresna. Pria kelahiran Jakarta, 3 Agustus 1949 itu, kini berusia 69 tahun. Tidak ada perayaan besar. Karena dia memang tak suka hura-hura. Menjauhkan foya-foya. Hanya kue tart dan salad buah. Itu pun dipesan mendadak usai dia mem-briefing awak Enciety Business Consult.

Banyak gagasan dan ide besar yang lahir dari Pak Kresna. Yang paling saya ingat tatkala ia melontarkan tantangan besar yang harus dihadapai di masa depan. Di mana, diprediksi kelahiran bayi pada tahun 2020 mendatang mencapai 20 juta jiwa. Juga, 30 juta keluarga baru, serta 20 juta kesempatan kerja baru yang dibarengi masuknya 10 juta tenaga kerja asing.

Bagi saya, prediksi itu cukup menghentak. Terlebih, Pak Kresna kemudian membaginya menjadi beberapa cluster. Kelompok usia 17-24 tahun yang lulus SMP/SMA, bisa menikmati kesempatan bekerja dengan kreativitas dan pendayagunaan gadget atau internet.

Kelompok 24-35 tahun, punya kreativitas memulai kegiatan online maupun offline.  Mereka biasa disebut maker: pembuat produk atau penyedia jasa masih punya kesempatan kerja. Menjadi freelancer dengan ketrampilan yang bisa dipelajari secara cepat seperti photography, cooking, barbershop dan masih banyak lagi.

Kelompok di atas 35 tahun. Umumnya sudah punya kompetensi dan punya segudang pengalaman yang mampu diintegrasikan dengan kebutuhan masa depan.

Selain detail dan rakus terhadap data, Pak Kresna juga dikenal konsultan bisnis andal. Sudah tak terhitung berapa banyak perusahaan meminta bantuan dirinya. Banyak pengusaha yang saya kenal, mengaku sangat familiar dan sering berkonsultasi dengan Pak Kresna.

Suatu ketika, Pak Kresna pernah didatangi 15 pemilik restoran ternama di Surabaya. Mereka mengaku cemas. Penyebabnya, omzetnya cenderung turun. Pak Kresna mengingatkan mereka jika zaman telah berubah. Tak bisa lagi menjalankan bisnis secara konvensional. Dulu, orang mengukur sukses usaha kalau tokonya dikunjungi  banyak pembeli. Sekarang tidak lagi. Karena banyak pembeli mencari dan berbelanja via online. Kemajuan teknologi membuat pola perilaku konsumen berubah drastis. Ia pun memprediksi, perputaran uang di dunia digital dapat disetarakan dengan perputaran uang di 40 mal.

Dedikasi dan integritas Pak Kresna terhadap dunia pendidikan juga sangat tinggi. Sebagai dosen, ia sangat ketat dan disiplin dalam mendidik. Banyak alumnus statistik ITS yang diajarnya megakui hal itu.

Pak Kresna juga selalu blak-blakan, ngomong tanpa tedheng aling-aling. Seperti keriuhan soal rencana sekolah 8 jam. Pak Kresna bersuara lantang, betapa pentingnya kebijakan itu. Kata dia, pola kurikulum sekolah sekarang hanya menitikberatkan pembelajaran teori dalam kelas. Padahal jika ingin efektif, harus disertai praktik langsung di luar kelas. Karena skill siswa dapat terasah dan lebih terarah.

Dia juga yakin sekolah 8 jam tersebut tidak mengurangi waktu anak untuk berinteraksi dengan keluarga. Justru sebaliknya, sekolah 8 jam membantu siswa berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Pun siswa bisa memanfaatkan waktu luang dan bermain.

Di usianya kini, Pak Kresna masih menyala-nyala dengan gagasan dan ide. Belajar dan mengajar. Kegiatan sehari-hari yang dilakoni dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Barangkali itulah yang tak bisa tergantikan dari dirinya. Dan, kita pun tak berlebihan menyebutnya sebagai Bapak Statistika Indonesia. (*)

*) Pemimpin redaksi enciety.co

Marketing Analysis 2018