Banyak Muncul Investasi Baru Mirip Reksadana

Banyak Muncul Investasi Baru Mirip Reksadana

Inggit Mawarsih, Dedi Herlambang, Rudy Basuki, dan Kresnayana Yahya, dalam Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (9/11/2018).foto:arya wiraraja/enciety.co

Secara makro ekonomi, masih banyak uang menganggur di bank dan lembaga jasa keuangan. Hingga April 2018, orang yang berinvestasi di Reksadana sekitar Rp 200 triliun. Sedang uang mengendap di Bank Indonesia Jatim mencapai Rp 600 triliun.

“Padahal, anggaran belanja provinsi Jatim hanya Rp 29 triliun. Jika ditotal dengan anggaran belanja daerah kota dan kabupaten, angkanya Rp 120 triliun. Diperkirakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sekitar Rp 2.000 triliun. Jadi, uang pemerintah hanya 9 persen dari total PDRB,” kata Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (9/11/2018).

Menurut dia, melalui data-data tersebut, dapat dilihat jika saat ini di luar modal usaha banyak masyarakat menyisihkan dana untuk berinvestasi. Namun kondisi perekonomian dan pasar modal yang belum menentu membuat masyarakat menunggu keadaan lebih stabil.

“Untuk itu, yang dibutuhkan masyarakat sekarang adalah panduan melakukan investasi,” tandas pria yang mendapat julukan Bapak Statistika Indonesia itu.

Acara ini dihadiri Kasubag Edukasi dan Perlindungan Konsumen Kantor Kantor Regional 4 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jatim Inggit Mawarsih,  Kepala Bagian Pengawasan Pasar Modal Kantor Regional 4 OJK Jatim Dedi Herlambang,  dan Manager Manulife Aset Managemen Indonesia Area Surabaya Rudy Basuki.

Kresnayana menegaskan, kondisi ini harus direspons pihak-pihak yang berwenang seperti OJK. Karena belakangan, banyak muncul pola investasi baru yang sangat mirip dengan sistem yang digunakan reksadana.

Kata dia, akhir tahun ini, banyak masyarakat dan perusahaan yang ngin berinvestasi. Setidaknya ada dua yang melatarbelakangi. Pertama, mencari keuntungan secara cepat sebelum target tutup buku tahunan. Kedua, mencari peluang menambah keuntungannya di awal tahun depan.

“Nah, mereka ini diberikan petunjuk perusahaan mana saja yang aman untuk berinvestasi,” tegas Kresnayana.

Sementara, Dedi Herlambang menjelaskan, soal reksadana tidak lepas dari manager investasi yang telah diatur UU Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995. Dalam UU tersebut mengatur tentang Perusahaan Efek yang dapat bertindak sebagai broker, penjamin emisi efek, dan manager investasi.

“Terkait peran serta fungsi manager investasi ini, perusahaan efek diberi kewenangan mengelolaan dana yang diatur dalam UU Pasar Modal. Di sana disebutkan jika reksadana adalah sebuah wadah untuk menghimpun dana masyarakat atau pemodal yang nantinya di investasikan dalam bentuk portofolio efek oleh manager investasi. Lewat definisi tersebut, reksadana merupakan kegiatan investasi yang legal,” tegas Dedi.

Dia lantas menjelaskan, ada banyak macam jenis reksadana. Pertama, reksadana pasar uang yang merupakan jenis reksadana dengan risiko paling kecil. Kedua, reksadana pendapatan tetap. Ketiga, reksadana campuran. Dua jenis reksadana ini memiliki tingkat resiko sedang.

“Yang terakhir jenis reksadana sahamyang memiliki tingkat resiko tinggi,” tandas dia.

Selain keempat jenis reksadana tersebut, imbuh Dedi, ada reksadana non konvensional. Contohnya reksadana indeks, reksadana terproteksi, dan lain sebagainya.

Kata Dedi, jika berbicara terkait reksadana memang hal yang kompleks dan saling terkait. Untuk melindungi investor, sampai saat ini, OJK sudah mengeluarkan Sepuluh Peraturan OJk (POJK) dan satu Surat Edaran OJK (SEOJK) terkait pengelolaan investasi.

“Lewat berbagai POJK dan SEOJK ini artinya OJK sudah berusaha melakukan proteksi secara ketat agar tidak kecolongan dengan adanya penipuan berkedok investasi,” tutupnya.(wh)

Marketing Analysis 2018

Berikan komentar disini