Antisipasi Kekerasan Anak, Manfaatkan Call Click 112

Antispasi Kekerasan Anak, Manfaatkan Call Click 112

Fatchul Munir, Praktisi Perlindungan Anak, Chandra Ratna Maria DE Rosario Oratmangun, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP5A) Pemkot Surabaya, AKP Ruth Yeni, Kepala Unit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya dan Kresnayana Yahya, Chairperson Enciety Business Consult, Jumat (8/3/2019).

Pengenalan nilai bagi anak perlu dilakukan sedini mungkin. Mulai usia tiga tahun, anak wajib tahu norma-norma penting di masyarakat. Anak dikenalkan untuk membedakan laki-laki dan perempuan, peran ayah dan ibu, saudara dan lain sebagainya.

Hal itu disampaikan Chairperson Enciety Business Consult, Kresnayana Yahya dalam acara Perspektif Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (8/3/2019).

“Terutama di kota besar seperti Surabaya, banyak tindakan penyimpangan baik itu seksual maupun sosial. Untuk itu, anak perlu dibimbing dan dikenalkan agar terhindar akan perilaku penyimpangan tersebut,” katanya.

Menurut Kresnayana, idealnya sejak usia 7 tahun, anak harus tahu, hanya hanya orang tuanya saja yang boleh menyentuh dan berinteraksi fisik kepada dirinya.

“Pada usia tersebut, anak sudah diajarkan jika dirinya harus bisa mandi sendiri. Ini penting dilakukan sebab tidak sedikit anak yang mendapat kekerasan seksual itu belum tahu mengenai masalah tersebut,” tandas Kresnayana yang karib dijuluki Bapak Statistika Indonesia itu.

Sementara, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP5A) Pemkot Surabaya Chandra Ratna Maria DE Rosario Oratmangun menjelaskan, perilaku menyimpang yang marak menghantui anak-anak saat ini sebenarnya bisa ditangkal. Salah satunya dengan melibatkan orang-orang di sekitar tumbuh kembang anak.

“Peran orang tua, orang-orang dekat, sangat penting. Selain ikut menjaga dan membimbing si anak, mereka wajib memahami jika anak adalah orang yang melanjutkan kita. Sudah semestinya kita jaga mereka,” tegasnya.

Chandra lalu menjelaskan, jika Pemerintah Kota Surabaya terus berupaya terlibat menangkal perilaku menyimpang yang dapat merugikan anak. Salah satunya dengan menyediakan layanan konsultasi psikologi bagi anak-anak.

“Lewat Call Click 112, kami punya layanan konseling untuk anak. Jika perlu kami juga punya tempat konsultasi langsung dengan pakar psikologi di Gedung Eks Siola, Jalan Tunjungan. Di sana anak-anak bisa melakukan konsultasi atau curhat terkait permasalahan mereka,” paparnya.

Kepala Unit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni menuturkan, tindak kekerasan terhadap anak seringkali terjadi karena si anak ini berpotensi menjadi korban.

“Logikanya, jika pelaku ini tahu anak ini tidak lugu atau sudah mengerti norma apa saja yang boleh dan tidak boleh, pelaku bakal berpikir dua kali melakukan tindak kekerasan,” ujar dia.

Kata Yeni, untuk menindak para pelaku kekerasan terhadap anak ini, pihaknya telah memiliki beberapa langkah. Di antaranya penyuluhan pada pelaku supaya tidak mengulangi perbuatannya lagi.

“Sampai saat ini, pelaku tindak kekerasan anak ini adalah orang terdekat. Untuk itu, kita harus sadarkan mereka jika anak adalah aset masa depan. Karena kalau bukan anak siapa lagi yang bakal meneruskan perjuangan kita kelak,” pungkasnya.(wh)