Antara Kebutuhan dan Kelebihan

Antara Kebutuhan dan Kelebihan

*) Oleh: Suwandono

Suatu ketika, saya menjamu seorang kolega yang berkunjung ke Malang. Ia pengusaha properti hebat. Skala proyeknya ratusan miliar rupiah. Sebagai tuan rumah, saya mengajaknya keliling kota, mengintip beberapa peluang investasi sambil berbincang ngalor-ngidul. Ketika ada beberapa pengendara motor melaju zig-zag dan hampir tercium bemper mobil, emosi saya tersulut dan berbuah omelan. Hal yang sebenarnya amat konyol karena si pengendara motor tentu tak bisa mendengar omelan saya.

“Sabarlah, kamu harus sadar kalau mereka itu masih mengejar kebutuhan, sementara kita ini hanya mencari kelebihan,”  ucap si kolega merespons omelan saya.

Komentar singkat itu memaksa saya merenung seiring pemahaman bahwa ucapan itu mengandung makna amat dalam. Selanjutnya obrolan kami mengerucut pada urusan kebutuhan dan kelebihan itu. Menurut tokoh Tionghoa yang aktif di organisasi Sapta Dharma itu, banyak orang belum bisa membedakan urusan yang masih berkutat di wilayah “kebutuhan” dan urusan “kelebihan”. Yang dimaksud adalah hubungannya dengan masalah finansial.

Orang-orang yang masih berada dalam “wilayah kebutuhan” harus memeras keringat dan memacu otak setiap hari untuk dapat memenuhi kebutuhan pokoknya (pangan, sandang, papan, pendidikan & kesehatan). Sedangkan yang sudah masuk “wilayah kelebihan” adalah orang-orang yang bekerja/berwirausaha untuk menambah pundi-pundi kekayaannya, urusan kebutuhan pokok tidak menjadi persoalan lagi.

Logikanya, mereka yang berada dalam wilayah kelebihan seharusnya memiliki kesabaran dan toleransi lebih tinggi dibanding yang masih berkutat di wilayah kebutuhan. Namun, seringkali mereka justru berperilaku lebih keras. Mereka bersitegang, marah, kecewa, stres hingga menuai penyakit, bertikai, bahkan ada yang harus saling bunuh hanya karena urusan kelebihan.

Umur mereka pun dihabiskan untuk menumpuk kelebihan itu, hingga lupa menebar kebajikan. Mereka lupa jika semua kelebihan itu, sebenarnya hanya sebagai pemuas emosi. Mereka senang saldo depositonya beranak pinak, bahagia dengan asset yang terus menggunung, bangga dengan banyak hal lainnya yang sebenarnya tidak akan pernah mereka pergunakan untuk keperluan pribadi. Karena apa? Karena kebutuhan hidupnya telah tercukupi.

Banyak orang kaya terjerat masalah yang berujung ketidaktenangan hidup hanya karena hal-hal yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Jika misalnya ditanya, berapa sih kebutuhan hidup dan gaya hidupmu? Mereka tentu tidak serta merta bisa menjawab dengan mudah, karena otak mereka lebih banyak digunakan untuk mengurusi kelebihan, sampai lupa menghitung kebutuhannya sendiri.

Dengan pemahaman semacam itu, apakah dapat diartikan melakukan pembiaran terhadap orang-orang yang bertindak sakkarepe dewe? Tentu saja tidak, justru orang-orang yang sudah berlabel “kelebihan” mempunyai tanggung jawab untuk membantu menghantarkan orang yang masih berkutat di wilayah kebutuhan agar bisa naik kelas. Kalau toh tidak memiliki ruang dan waktu untuk itu, minimal bisa bersikap lebih bijak dan memiliki kesabaran serta tepo seliro lebih tinggi.

Upaya menambah kelebihan merupakan hal lumrah dan manusiawi, bahkan wajib hukumnya. Dengan pemikiran bahwa dengan banyak kelebihan bisa lebih leluasa menebar kebajikan untuk sesama. Jangan sampai kondisinya terbalik, dalam upaya menambah kelebihan itu justru menekan mereka yang masih berkutat dengan kebutuhan (misalnya: jadi rentenir/lintah darat, bisnis tidak memperhatikan etika, korupsi, dan sejenisnya).

Lantas, bagaimana dengan orang-orang yang masih berada di wilayah kebutuhan? Tentu harus belajar lebih banyak dari orang-orang di wilayah kelebihan, menjalin hubungan lebih intens, bekerja lebih cerdas dan keras serta bertekad untuk bisa naik kelas.

Mendengar uraian bijak itu, mulut saya seperti terkunci. Kekaguman berjejal-jejal dalam benak. Saya membayangkan keadaan jika semua orang kaya memiliki prinsip hidup dan pemahaman seperti kolega saya itu. Dunia tentu terasa lebih indah. Saya pun bertekad jika diberi kesempatan Sang Pembuat Hidup untuk naik kelas di wilayah kelebihan, saya akan menerapkan pemahaman bijak itu.

Sejak mendapat wejangan gratis itu, bila tengah mengendarai mobil dan mendapati perilaku pengendara lainnya (terutama sepeda motor) yang semaunya sendiri tanpa mengindahkan etika berlalu-lintas, saya lebih bisa meredam emosi dan tak perlu mengomel lagi. Hati pun terasa lebih adem. Saya berkata pada diri sendiri: “Mereka mungkin lebih butuh dari saya, sudah seharusnya saya lebih sabar” Bagaimana dengan Anda? (*)

*) Pengusaha properti dan penulis novel

Marketing Analysis 2018