AMDK Mulai Jadi Tumpuan Masyarakat Pedesaan

AMDK Mulai Jadi Tumpuan Masyarakat Pedesaan

Dwi Setyaningsih, peneliti Enciety Business Consult

Banyak faktor yang menjadi pemicu perubahan lifestyle masyarakat saat ini. Salah satunya lingkungan. Kondisi yang makin tidak kenal kompromi seringkali membuat masyarakat terpaksa untuk berubah. Dan itu terjadi saat lingkungan sudah semakin tidak sehat. Dimana masyarakat yang semula menggunakan air sumur atau air PAM sebagai sumber air minum kemudian beralih mengonsumsi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK).

Konsumsi AMDK menurut enciety Desk Research (eDR) meningkat pesat dalam lima tahun terakhir. Bahkan, pertumbuhan rata-ratanya mencapai 18 persen. Ada banyak faktor pemicu meningkatnya konsumsi AMDK, di antaranya pertumbuhan penduduk, tuntutan hidup sehat, dan lingkungan yakni menurunnya kepemilikan sumber air minum layak di masyarakat.

Data eDR juga mencatat, rumah tangga yang memiliki sumber air minum layak turun 6,6 persen menjadi 41,1 persen pada tahun 2012. Hal tersebut paling terasa di perkotaan karena dalam 3 tahun saja penurunannya mencapai 11,7 persen. Demikian pula di perdesaan, kendati tidak sedramatis di perkotaan.

Kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa industri ini ke depan tidak hanya menjadi tumpuan bagi masyarakat perkotaan saja, melainkan juga perdesaan dalam upaya pemenuhan kebutuhan air minum.

Sejarah perkembangan AMDK di Indonesia dimulai sekitar tahun 1973, dimana untuk pertama kalinya beroperasi industri ini. Sejak itu konsumsi AMDK dianggap sebagai salah satu gaya hidup modern. Saat ini, konsumsinya dalam setahun sudah 83 liter per kapita. Angka tersebut masih di bawah konsumsi di Singapura, Malaysia, maupun Thailand yang sudah diatas 100 liter per kapita (eDR). (wh)

Marketing Analysis 2018