ALFI: Volume Perdagangan Jatim Turun 30 Persen

ALFI: Volume Perdagangan Jatim Turun 30 Persen
Ketua DPW ALFI Jatim Henky Pratoko. foto: kanalsatu.com

DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur meminta pemerintah tegas menyikapi lesunya perdagangan internasional. Hingga semester kedua ini, volume perdagangan antarnegara mengalami penurunan cukup signifikan.

Berdasarkan data dari ALFI Jatim, volume penurunan perdagangan (ekspor-impor) ini mengalami penurunan hingga 30 persen. Penurunan itu sebagai akibat dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap valuta asing, terutama dolar Amerika Serikat (AS).

“Kami berharap pemerintah bisa memberikan roadmap indsutri agar produk dalam negeri memiliki daya saing. Sehingga bisa menggairahkan perdangan lokal (antar pulau), untuk mengatasi lesunya pengiriman barang ke luar negeri,” jelas Ketua DPW ALFI Jatim Henky Pratoko, Senin (21/09/2015).

Sejauh ini, Henky memang tidak memiliki data tentang volume transaksi ekspor-impor. Tetapi dengan pelemahan rupiah terhadap dolar AS sudah membuat seret perdagangan internasional.

Selain menurunkan volume transaksi, biaya yang harus ditanggung forwarder juga melambung. Taruhlah pengiriman barang ke China hanya USD300. Pada saat kurs USD1 di kisaran Rp 12.000, biaya pengiriman ke China hanya Rp3,6 juta per peti kemas. Tetapi dengan meelmahnya nilai tukar rupiah, pengiriman ke China naik 19 persen.

“Bila biasanya mengrim barang ke China senilai USD300 atau di kisaran Rp3,6 juta (kurs 1USD = Rp12.000), sekarang menjadi Rp4,3 juta per petikemas pada saat kurs USD1 setara Rp14.400,” lanjutnya.

Pengiriman barang ke Eropa juga mengalami penurunan volume maupun peningkatan biaya. Bisanya forwarder hanya mengeluarkan biaya Rp13,2 juta per peti kemas, kini membengkak mencapai Rp15,8 juta per peti kemas, sebagai dampak dari merosotnya nilai tukar rupiah.

Beban biaya yang besar, ditambah dengan merosotnya volume pengiriman barang membuat ALFI Jatim meminta pemerintah memberikan solusi terhadap pengusaha pengiriman barang. Hal ini guna mengatasi lesunya perdangan internasional ditengah situasi perekonomian global yang tengah melambat.

ALFI Jatim juga meminta pemerintah bisa melakukan pemerataan industri. Hal ini untuk menggiatkan perdangan antar pulau di Indonesia yang masih belum berimbang. Sebagai contoh pengiriman barang melalui Jawa ke Indonesia Timur kerap tidak sebanding dengan pengiriman barang dari Indonesia Timur ke Jawa.

Pada saat kita mengirim barang Indonesia Timur, pada saat kembali ke Surabaya, kapal dalam kondisi kosong. “Beban biaya pengiriman barang ini yang harus ditanggung oleh pengusaha. saya berharap ada solusi pemerataan industri baik di timur maupun barat, agar perdagangan antar pulau bisa bergairah,” tutupnya. (wh)

Marketing Analysis 2018