Sambut AFTA, Surabaya Launching Rumah Bahasa

Sambut AFTA, Surabaya Launching Rumah Bahasa
Wali Kota, Tri Rismaharini, menjadi partner praktik percakapan bahasa Inggris dengan seorang supir taksi di Rumah Bahasa, Selasa (4/2/2014)

 

“Excuse me, Mrs. What’s your name?” tanya seorang pria kepada seorang perempuan berkerudung.

My name is Tri Rismaharini,” jawab Risma.

“Eeeh… where do you want to go?” tanyanya sambil diiringi gelak tawa teman-temannya.

Itulah cuplikan keakraban Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan seorang sopir taksi saat mempraktikkan bahasa Inggrisnya. Jelang dibukanya kran perdagangan bebas Asia Tenggara (AFTA) 2015, Pemkot Surabaya meluncurkan Rumah Bahasa di Balai Budaya, kompleks Balai Pemuda, Selasa (4/2/2014).

Ide Rumah Bahasa tersebut, diakui Risma, baru muncul beberapa bulan terakhir. Ia melihat beberapa negara tetangga ASEAN tengah memantapkan warganya dengan bahasa asing. Bahkan di Thailand, bahasa Indonesia juga diajarkan.

“Jadi ini semua untuk melatih warga Surabaya supaya bisa berbahasa asing, di antaranya Inggris dan Mandarin,” ujar Risma usai peresmian.

Menurut dia, kemampuan bahasa asing diperlukan pelaku usaha lokal dalam berkomunikasi agar tidak tertipu saat bertransaksi.

Semua pengajar bahasa di Rumah Bahasa adalah volunteer alias sukarelawan. Saking tingginya semangat para volunteer yang mendaftar, sekitar 200 orang kini mengantre untuk mengajar. Meskipun begitu, kualifikasi tetap diberlakukan.

Kabag Kerjasama Pemkot Surabaya, Ifron Hady Susanto menyatakan, pihaknya tak ingin para tutor mengajarkan teori yang kurang sesuai kepada masyarakat.

“Calon pengajar kami minta mengisi formulir pemantauan kapabilitas. Serta simulasi singkat untuk memonitor apakah calon pengajar tersebut benar-benar layak memberi materi. Jadi pendaftar untuk volunteer tidak serta-merta langsung bisa mengajar,” ujarnya.

Ifron melanjutkan, konsep Rumah Bahasa tak sama dengan kursus kebanyakan. Peserta diberi materi bahasa asing praktis sesuai kebutuhannya dalam grup kecil yang berisi 3-4 orang, plus 1 tutor. Selama 45 menit, mereka mendapatkan materi percakapan dikelompokkan sesuai profesinya masing-masing.

“Kalau terlalu banyak teori nanti malah bosan. Kan sasaran rumah bahasa ini seluruh lapisan masyarakat, pelaku usaha kecil menengah (UKM), sopir taksi, pedagang, dan profesi lainnya yang berhubungan dengan jasa dan perdagangan,” jelasnya.(wh)

 

Marketing Analysis 2018