35 Batik Gedog Dipamerkan di HoS Surabaya

35 Batik Gedog Dipamerkan di HoS Surabaya

Anek batik gedog yang dipamerkan di House of Sampoerna

Batik memiliki ciri khas masing-masing daerah yang umumnya dibedakan dari corak atau motif, warna serta tehnik pewarnaan yang dipergunakan. Hal ini yang ditemui di Batik Gedog yang berasal dari Tuban. Keunikan proses pembuatan serta teknik pewarnaan mendorong KIBAS menghadirkan Batik Gedog dalam pameran yang bertajuk  Another Side of Batik Gedog yang digelar di Galeri Seni House of Sampoerna (HoS), 7-29 Oktober 2016

Perbedaan mendasar dari Batik Gedog dibanding batik lainnya, yakni dari bahan kain tenun yang dipergunakan, yang terbuat dari kapas yang banyak ditanam di ladang sekitar lokasi pembuatan batik. Kapas yang sudah dipintal, kemudian ditenun menjadi kain menggunakan alat tenun tradisional yang mengeluarkan bunyi “dog…dog…” sehingga disebut kain Gedog.

Kain Gedog yang bertekstur kasar ini dibatik dengan menggunakan pewarna alam dari tanaman sekitar yang disebut NILO (Nila) atau Indigo yaitu tanaman penghasil warna biru alami. Penggunaan bahan-bahan alami inilah yang menjadikan Batik Gedog terlihat eksotis. Hal itu disampaikan oleh Rani Anggraini, Manager Museum & Marketing
House of Sampoerna, Rabu (5/10/2016).

35 Batik Gedog dengan beragam motif seperti Likasan Kotong, Rengganis, Gringsing, Kijing Miring, Kasatrian, Kembang waluh, Kembang Kluwih, Lok Can, Gunting, Ganggeng, dan Owal Awil ditampilkan beserta penjelasan akan fungsi dan filosinya yang masih kurang dikenal oleh masyarakat. Seperti motif Gringsing yang sering digunakan sebagai selimut, dipercaya dapat menyembuhkan orang sakit.

“Di satu daerah, kain Gringsing dapat digunakan secara bergilir dari satu keluarga ke keluarga yang lain saat ada anggota keluarga yang sakit. Tidak hanya berdasarkan motif, batik Gedog juga memiliki sebutan sesuai dengan fungsinya seperti batik Gedog ‘tapeh’ atau kain panjang, digunakan untuk ‘sayut’ atau gendongan, untuk menggendong bayi atau barang,” urai dia.

Adapula ‘Serang Buwuhan, yaitu batik Gedog yang umumnya digunakan saat menghadiri acara atau hajatan keluarga. Fungsi batik Gedog lainnya yang masih dilakukan hingga kini adalah sebagai prasyarat ketika akan mendirikan pilar (saka Guru) sebuah rumah yaitu dengan cara menggantungkan batik pada pilar.

“Batik Gedog yang banyak dihasilkan dari kecamatan Kerek kabupaten Tuban ini, masih juga digunakan sebagai alat tukar untuk mendapatkan barang lain, sering pula menjadi barang yang dapat digadaikan bagi penduduk desa yang membutuhkan uang. Bagi penduduk lainnya, batik Gedog juga dikategorikan sebagai barang pusaka dan merupakan kebanggaan keluarga yang memilikinya karena menunjukan status ekonomi keluarga tersebut,” papar dia.

Dilatarbelakangi oleh komitmen untuk terus mengapresiasi dan mengembangkan batik Jawa Timur sebagai kekayaan budaya bangsa mendorong KIBAS untuk melakukan inovasi sesuai dengan perkembangan teknologi.

Berbagai kegiatan untuk meningkatkan nilai ekonomis batik Jawa Timur melalui pendidikan, penelitian, dan pelatihan tentang batik berdasarkan keunggulan dan keunikan masing-masing terus dilakukan oleh KIBAS dengan dukungan dari tenaga profesional.

Sejak awal didirikan, House of Sampoerna terus mendukung program-program pelestarian warisan budaya bangsa seperti batik salah satunya dengan penyelenggaraan pameran di galeri seni agar masyarakat semakin mengapresiasi batik terutama Batik Jawa Timur, selain memberikan kesempatan bagi pengrajin batik untuk memperkenalkan dan menjual karyanya di museum shop yang berada di lantai 2 museum, sebagai kontribusi terhadap perkembangan usaha kecil menengah (UKM) di Kota Surabaya dan Jawa Timur. (wh)