2019, Penerimaan Pajak Alami Rasionalisasi

2019, Penerimaan Pajak Alami Rasionalisasi

Tatik Sugandhi, Widi Pramono, Sholeh Abdurahman dan Kresnayana yahya dalam Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya. foto: arya wiraraja/enciety.co

Penerimaan negara dari pajak mulai mengalami rasionalisasi di 2019. Hal ini didasari makin tertibnya masyarakat membayar pajak. Fakta ini  berdampak besar bagi pembangunan yang dilakukan pemerintah. Pasalnya, sebagian besar pembiayaan merupakan hasil dari pajak yang dibayar masyarakat.

“Diperkirakan penghasilan negara dari pajak angkanya mencapai Rp 1.737 triliun di tahun 2019 ini. Untuk perekonomian kita di tahun 2019, diperkirakan naik dan pertambahannya mencapai Rp 14-15 triliun. Jika ditambah beberapa pendapatan lain total dari APBN kita bisa mencapai lebih dari Rp 2.000 triliun,” ujar Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (1/3/2019).

Acara ini juga dihadiri Kepala KPP Pratama Kota Surabaya Abdurrahman Sholeh dan Kepala Seksi Konsultasi KPP Pratama Kota Surabaya Widi Pramono.

Kresnayana lalu mengingatkan jika angka-angka tersebut hanya 10 persen dari pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Sisa dari pertumbuhan tersebut didapat dari uang masyarakat yang sampai saat ini beredar.

“Jika kita tarik kebelakang, pada 2017-2018, penerimaan pajak di lingkungan Kanwil DJP Jatim I ini angkanya Rp 37 triliun. Namun, untuk saat ini nilainya bisa menyentuh angka Rp 40 triliun. Jelas ini menjadi satu prestasi tersendiri,” kupas pria yang mendapat julukan Bapak Statistika indonesia itu.

Kresnayana menjelaskan, ada satu terobosan yang bisa dilakukan Kanwil DJP Jatim I. Ke depan yang musti dikembangkan  petugas pajak adalah aplikasi yang dapat memudahkan orang membayar pajak.

“Di zaman serba digital banyak dari mereka yang berpikir kenapa saya harus antre untuk bayar pajak di kantor pajak yang jaraknya jauh dari rumah. Jika ada semacam aplikasi yang memudahkan mereka, saya percaya mereka pasti mau bayar pajak,” paparnya.(wh)

Marketing Analysis 2018