2019, Jatim Punya 111.087 Investor

2019, Jatim Punya 111.087 Investor

Sosialisasi pemanfaatan fasilitas Acuan kepemilikan sekuritas dan pengembangan infrastruktur dan capaian KSEI.foto:ist

PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) bekerjasama dengan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan sosialisasi di Surabaya dan Jombang. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemanfaatan fasilitas AKSes (Acuan Kepemilikan Sekuritas) yang merupakan fasilitas perlindungan investor Pasar Modal Indonesia juga memberikan informasi terbaru tentang pengembangan infrastruktur dan pencapaian KSEI. 

Pemilihan Surabaya dikarenakan berdasar data KSEI per akhir Februari 2019, Jawa Timur menempati urutan ke 3 jumlah investor terbanyak dari 34 provinsi di Indonesia dengan jumlah investor 111.087. Dari jumlah tersebut, 41.607 investor berdomisili di Surabaya.

Adapun jumlah investor di Pasar Modal Indonesia hingga akhir Februari 2019, mencapai 1.729.198 investor, yang mencakup investor pemilik Efek, Reksa Dana dan Surat Berharga yang diterbitkan Bank Indonesia.

Direktur Utama KSEI Friderica Widyasari Dewi menjelaskan, beberapa pengembangan yang direalisasikan KSEI mampu memberikan dampak positif bagi Pasar Modal Indonesia.

“Kami berharap hal ini dapat meningkatkan kenyamanan investor dalam bertransaksi serta menarik minat investor baru untuk berinvestasi di pasar modal,” ungkap Friderica, Jumat (8/3/2019).

Sebagai informasi, terang dia, sepanjang tahun 2018, KSEI telah merampungkan beberapa pengembangan seperti implementasi C-BEST Next-G, sistem untuk aktivitas penyimpanan dan penyelesaian transaksi Efek di pasar modal, yang dikembangkan untuk mengantisipasi peningkatan jumlah investor di pasar modal.

Beberapa pengembangan lain juga tengah dilakukan KSEI diantaranya inisiasi simplifikasi pembukaan Rekening Efek (RE) dan Rekening Dana Nasabah (RDN) sesuai dengan arah pengembangan sektor jasa keuangan Indonesia yang tercantum dalam master plan sektor jasa keuangan Indonesia tahun 2015 – 2019.

Tujuan program kerja ini dilakukan agar pembukaan RE dan RDN lebih mudah, cepat dan menjangkau lokasi yang lebih luas, sehingga investor dapat segera melakukan transaksi di pasar modal. KSEI telah memulai inisiatif ini sejak tahun 2016 dengan target awal adanya pedoman untuk penggunaan aplikasi elektronik dalam pembukaan rekening serta adanya pedoman untuk pembukaan RE agar dapat dilakukan melalui cabang-cabang Bank Administrator RDN.

Tahap selanjutnya akan dilakuka pengembangan infrastruktur untuk mendukung mekanisme simplifikasi pembukaan RE dan RDN melalui AKSes Financial Hub di tahun 2019. Saat ini, KSEI sedang mengkaji kemungkinan diterapkannya full dematerialisasi di pasar modal Indonesia. Untuk inisiatif strategis yang terakhir, berupa Layanan KYC Administrator Agent, KSEI telah memulai kajian pembuatan platform penyimpanan data KYC yang tersentralisasi dan dapat digunakan oleh Pelaku Jasa Keuangan (PJK) untuk sharing informasi KYC sehingga kualitas data nasabah menjadi lebih baik. Saat ini, masih terdapat pula pengulangan proses  KYC untuk investor yang sama pada PJK yang berbeda.(wh)