2018, Pemkot Surabaya Terus Optimalkan Penanganan PMKS

2018, Pemkot Surabaya Terus Optimalkan Penanganan PMKS

Teks: Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya Supomo

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus berupaya maksimal untuk menangani permasalahan PMKS di Kota Pahlawan. Melalui Dinas Sosial (Dinsos) Surabaya, setiap bulannya para PMKS yang terjaring razia dipulangkan ke daerah asal.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya Supomo mengungkapkan, untuk PMKS sendiri ada sekitar 27 jenis, terdiri dari ODGJ (orang dengan gangguan jiwa), anjal, gepeng, WTS, dan sebagainya. Di tahun 2017, pemkot sudah memulangkan sekitar 1.500 orang PMKS.

“Untuk pemulangan PMKS, biasanya dikawal satu orang dokter dan satu orang Pendamping (TKSK). Untuk luar pulau menggunakan akomodasi pesawat. Di antaranya dipulangkan kebanyakan dari beberapa kabupaten/kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan luar pulau,” jelasnya.

Menurut Supomo, 1.500-an yang sudah dipulangkan ke daerah asal, ke berbagai daerah, termasuk luar pulau, ke NTT, Makassar, Sulawesi. Terdiri dari 27 jenis PMKS, untuk antisipasi agar mereka tidak kembali, pemkot berkoordinasi dengan pemerintah daerah masing-masing.

“Kita antarkan sampai ke keluarga. Banyak juga kejadian-kejadian yang diluar dugaan, ada juga mereka yang tahlilan sampai 1.000 harinya, dan kemudian tiba-tiba mereka kembali dikira keluarganya sudah meninggal,” ujar Supomo, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis, (4/1/17).

Supomo menambahkan, di Surabaya ada beberapa panti yang terus dioptimalkan untuk mengurusi PMKS, dan di Surabaya sendiri merupakan panti yang terbesar dalam menangani masalah PMKS, dengan jumlah sekitar 1600 penghuni.

“Di panti sendiri ditangani layaknya manusia, kita obatkan, kita beri pelatihan, kita berikan makan dan pakaian yang layak, agar mereka bisa hidup lebih baik,” bebernya.

Paling mendominasi di liponsos saat ini adalah ODGJ, untuk pengobatannya biasanya secara longtime, pemkot opnamekan dulu selama satu minggu di rumah sakit. Kemudian dirawat ke tempat lalu antar mereka obat jalan secara rutin ke rumah sakit.

“Lha itu butuh waktu lama, bahkan puluhan tahun, karena penyembuhannya juga butuh waktu yang lama,” imbuh Kadinsos.

Saat ini, sambung Supomo, liponsos sendiri telah dilakukan perluasan, sebagai upaya untuk meningkatkan pelayanan kepada para penyandang PMKS. Jumlah penghuni liponsos saat ini yang laki-laki sekitar 800 dan perempuan sekitar 400, jumlah totalnya mencapai sekitar 1.600 PMKS, dengan dibantu sekitar 150 petugas. (wh)