2015, Kembalinya Gairah Industri Kopi Nusantara dan Filosofi Kopi

2015, Kembalinya Gairah Industri Kopi Nusantara dan Filosofi Kopi
Dimas Pratama, peneliti Enciety Business Consult

Tahun ini, dunia kopi Indonesia bakal semarak. Hal itu saya yakini atas dasar dua hal: optimisme ekspor kopi nasional dan rilisnya film Filosofi Kopi.

Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi kenyakinan tersebut. Pertama, ekspor kopi Indonesia yang pada 2014 lalu sempat lesu, menemukan asa di tahun ini.

Menurut Ketua Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI) Hutama Sugandhi, tahun lalu, volume ekspor menurun sekitar 25-30 persen dan secara nilai merosot sekitar 10 persen. Turunnya produksi nasional disebabkan perubahan cuaca yang tak biasa di Lampung, Sumatera Selatan, dan Bengkulu, kawasan segitiga emas kopi Indonesia.

Tahun ini, GAEKI optimistis ekspor bisa menyamai kinerja 2013. Hasil survei mereka meyakinkan, setidaknya kinerja 2015 bisa mencapai 600.000 ton dengan nilai USD1,8 miliar.

Di balik optimisme tersebut, Jawa Timur disinyalir akan menjadi salah satu primadona. Tercatat, produksi kopi Jawa Timur menguat sejak 2012. Berangsur meningkat dari 52.000 ton menjadi 68.000 ton di 2013, dan menembus 73.000 ton di 2014. (BI, 16/01/2015)

Kedua, film adaptasi karya novelis kawakan Dewi “Dee” Lestari, Filosofi Kopi, telah rilis April 2015. Film ini layak ditonton. Pasalnya, selain merupakan karya populer Dee, film ini dibintangi peraih penghargaan Pemeran Utama Pria Terbaik FFI 2014, Chiko Jericho. Juga Rio Dewanto, pemeran utama film Modus Anomali yang menyabet beberapa penghargaan di ajang internasional.

Filosofi Kopi merupakan kemasan yang menarik untuk mempropagandakan kopi indonesia. Paket lengkap drama yang apik. Kisah yang mengedukasi tentang kopi itu sendiri dan program yang melibatkan penggemar.

Pada web resmi filosofikopimovie.com tertulis:

“Sebuah film yang tidak hanya bercerita, tapi juga membuka wawasan baru untuk melihat kopi Indonesia dalam bingkai yang penuh gairah dan cinta.”

Film ini memadukan kisah sarat emosi. Obsesi seorang peracik kopi bernama Ben dan sahabatnya Jody. Mereka berupaya menemukan racikan pas kopi terenak di dunia. Klimak ceritanya, Ben yang jatuh cinta pada cita rasa kopi tubruk khas indonesia.

Sesi produksi melibatkan fans terpilih untuk menjadi salah satu pemeran, komposer musik latar, dan menduduki kursi produser digital.

Selain itu, menurut pengakuan Rio Dewanto (TN, 09/01/2015), kedai kopi yang diceritakan dalam film tersebut secara resmi melayani pelanggan pertengahan Februari atau Maret. Menurut dia, film ini bakal sukses menambah jumlah peminum kopi dalam negeri. Khususnya pangsa pasar anak muda.

Pertengahan 2014, film tentang kopi nusantara dalam format dokumenter bertajuk Biji Kopi Indonesia (judul internasional Aroma of Heaven) sudah mengawali promo kopi Indonesia dengan meramaikan Festival Film Cannes di Kota Cannes, Prancis.

So, apabila Filosofi Kopi mampu menyusul prestasi di kancah internasional, tidak ayal di penghujung 2015 nanti, demand kopi Indonesia bakal meningkat di pasar global. Semoga. (wh)